Bencana Tepian Negeri: Kemarau Makin Memperparah Gizi Buruk di NTT

19.20
gizi-buruk-ntt
Telah tiga bln terakhir sejak masa kemarau yg gersang menyapa negara ini. Kemarau mengambil bencana kekeringan, kemarau identik dgn penderitaan berkepanjangan. Hujan tidak menentu datang, hujan yg ditunggu nihil sepertinya. Kemarau nyata sudah menggersangkan beberapa ratus ribu hektare sawah merata di semua wilayah Indonesia. Tidak selain di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Periode kemarau panjang th ini mulai sejak menunjukkan imbas penderitaan berkepanjangan. Kemarau panjang sebabkan tidak berhasil panen. Tidak Sukses panen semakin memperburuk gizi tidak baik di kalangan “anak-anak Timor”, sebutan bagi anak-anak lokal di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Bencana gizi jelek di Propinsi NTT benar-benar telah terjadi pass lama, bahkan sejak awal th dulu, angka kejadian gizi tidak baik tidak sempat hilang dari statistik kesehatan bulanan Propinsi NTT. Terdaftar 1.918 anak mengalami gizi tidak baik sewaktu lima bln mula-mula thn 2015, 11 di antaranya wafat dunia, seperti terungkap dalam data Lembaga Kesehatan Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Ditilik dari catatan sejarahnya, warga tepian negara di Pulau Timor memang lah senantiasa berada dalam keadaan marjinal tidak berkecukupan. Kasus gizi tidak baik juga telah bukan lagi aspek aneh di NTT. Tapi, bencana kekeringan yg semakin parah di th ini jadi pemicu bertambahnya angka kejadian gizi tidak baik yg mendera balita & anak-anak Timor.
Lebih-lebih menurut prediksi, bencana kekeringan di th ini dapat berlangsung lebih panjang dari th tempo hari mengingat fenomena El Nino yg masihlah saja berlangsung di wilayah geografis Indonesia. Disaat memasuki gejala El Nino, aliran massa uap air dari Indonesia mengalir ke Samudera Pasifik, akibatnya berlangsung pengurangan pasokan uap air di wilayah Indonesia. Padahal pasokan uap air yg melimpah di Indonesia yakni pemicu turunnya hujan deras. Akibatnya, fenomena El Nino dapat menambah panjang kala kemarau di bandingkan tahun-tahun pada awal mulanya.
Satu wilayah NTT yg lumayan parah mengalami bencana kekeringan ada di pesisir pantai bidang selatan Pulau Timor, Kab Timor Tengah Selatan (TSS). Enam desa di wilayah tersebut mencapai kekeringan maksimal sebab hujan sejak awal 2015 dulu cuma turun banyaknya tiga kali, seperti yg dilansir dari page National Geographic.
Akibatnya, tanaman padi & jagung yg jadi bahan makanan mutlak sama sekali tidak mampu tumbuh. Sedikitnya lebih dari 1.000 jiwa di enam desa serta berada dalam type darurat rawan pangan.
Sampai memasuki pertengahan th ini, catatan Lembaga Kesehatan Kab Timor Tengah Utara menunjukkan fakta bahwa 106 balita menderita gizi tidak baik, tapi sebahagian agung dari mereka sudah pulih sesudah diberikan perawatan intensif di bawah konsultasi doktor gizi & diberikan asupan makanan penambahan sewaktu 90 hri. Waktu Ini, tinggal belasan anak yg masihlah meraih penanganan intensif & dalam proses pemulihan dari bencana gizi tidak baik.
Tetapi, statistik itu cuma ada di Kab Timor Tengah Utara. Padahal persoalan gizi jelek yaitu persoalan yg nyata & telah berada dalam tataran kronis bagi penduduk Nusa Tenggara. Pola makan yg jelek ditambah kesadaran bakal gizi yg teramat rendah terlebih bersama keadaan ekonomi miskin & terbelakang semakin memperparah keadaan saudara kita di tepian negara, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.
Hingga kapan penderitaan mereka bakal berhenti? Tidak sanggup kah sedikit saja kebahagiaan yg kita rasa dibagi dgn mereka yg membutuhkan di ujung timur sana?(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar