Bencana Tepian Negeri: Kekeringan Menyerang 400 Sawah di Tanah Kupang

19.39
bencana-kekeringan-kupang
Kupang, satu wilayah tanah Indonesia di tepian negara. Kab Kupang berbatasan cepat bersama tanah Timor Leste di segi Timur Laut. sejauh ini, Kupang terlihat tenggelam di tengah ingar bingar kebijakan Ibukota Jakarta. Wilayah Kupang & jajaran desa-desa marjinal di sekitarnya masihlah saja “beradu pukul” bersama nasib & kemiskinan yg tetap mendera.
Penderitaan mereka pula makin jadi di pertengahan th ini. Sewaktu dua bln lebih kemiskinan akut menyerang rata di nyaris di seluruhnya wilayah Indonesia, tidak tidak hanya wilayah Kab Kupang. Lebih-lebih sewaktu ini wilayah Nusa Tenggara Timur dikenal sbg tanah kering nan tandus, minim hujan bahkan sepanjang thn.
Sekian Banyak dikala terakhir, bencana kekeringan juga makin mempersulit keadaan hidup sebahagian gede warga Kab Kupang. Dilansir dari page Antaranews, kira kira 400 hektare sawah petani di Desa Naibonat & Oesao Kecamatan Kupang Timur, Kab Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami bencana kekeringan parah akibat masa kemarau panjang.
Masihlah ingat bersama jargon yg pernah ngehits sekian banyak saat dulu : ‘mata air su dekat’? Ya jargon itu juga berawal dari kenyataan bahwa warga Pulau Timor, khususnya Kab Kupang benar-benar mempunyai akses susah kepada air bersih. Lebih-lebih di puncak masa kemarau ini.
Aditya Loloin, seseorang petani miskin di Desa Naibonat, Kupang mengemukakan bahwa tanaman sawah terang tidak sukses tumbuh di tengah puncak periode kemarau ini. Padi tak sanggup berkembang sebab debit air dari kali Oesao & sumber air Pukdale mulai sejak turun drastis bahkan sampai mencapai 40%.
Menurut kisahnya, ada 200 orang petani yg ikut menggarap sawah di Naibonat & Oesao. Mereka sekarang putus angan-angan lantaran debit air buat pengairan benar benar tak lumayan. Pertolongan air dari Pemerintah Kab juga bagaikan mimpi di siang bolong.
Penurunan debit air terlihat terang disaat pematang sawah petani yg berada di ujung tempat persawahan sejak mulai kering & tak ada aliran air sama sekali. Yang Merupakan solusi sementara ketimbang mengharap pertolongan semu pasokan air dari Pemerintah, para petani sepakan buat mulai sejak menghemat air dgn membagi jadwal pendistribusian air ke tiap-tiap pematang sawah petani.
diluar itu, para petani serta hasilnya terpaksa memakai air sumur bor yg berada dekat rumah mereka utk mengairi petak-petak sawah sumber makanan mereka. Padahal air sumur bor serta telah dalam status kritis & mesti sharing konsumsinya bersama kepentingan basic rumah, yakni buat mandi, cuci, & kakus (MCK), & minum.(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar