Melihat Derita Warga Tepian Negeri di Amfoang Tengah, Kupang

19.12
tepian-negeri-kupang
Selama ini, derasnya arus pemberitaan media lokal di tanah air hanya sekadar menyorot isu-isu yang menyeruak di antara laju kota-kota besar. Kemiskinan di Jakarta, kekurangan air bersih di Jakarta, bencana di Kota A, sekolah rusak di desa A yang tak jauh dari Kota B. Atau seperti yang belum lama tersiar, jembatan gantung yang tak layak di Kabupaten Lebak, masih tak jauh dari Kota.
Sekalipun membawa cerita tentang wilayah perbatasan negeri, lagi-lagi yang dibahas hanya seputar wilayah pos perbatasan negeri di pulau Borneo, berjajar dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara. Sepetak besar garis batas yang berdempet langsung dengan wilayah negeri jiran Malaysia.
Ya, memang sederet nama mulai dari Malinau, Nunukan, Entikong, dan beberapa wilayah lain lebih sering diucap dan di sorot oleh sejumlah media besar tanah air ketimbang garis batas lain, terlebih fakta tentang sebuah tepian negeri di Pulau Timor, tepatnya di Desa Bitobe, Amfoang Tengah, Kabupaten Kupang. Nusa Tenggara Timor
Secara geografis, Amfoang Tengah merupakan wilayah perbatasan yang terisolir, tertinggal, dan terbelakang. Menjadi tepian negeri yang berbatasan dengan wilayah Negara Timor Leste.
Jika dicari berdasarkan mesin pencari Google, akan sangat jarang ditemukan fakta tentang wilayah Amfoang Tengah. Padahal masayarakat di tepian negeri ini sangat membutuhkan uluran tangan, untuk meredakan derita dan duka mereka. Berikut adalah fakta yang betul-betul sedang terjadi di Desa Bitobe, Amfoang Tengah.
  1. Bitobe adalah salah satu Desa di Kab. Kupang yang memiliki akses paling rendah terhadap air bersih.
Masih ingat dengan jargon yang sempat ngehits beberapa waktu lalu: ‘mata air su dekat’? Ya jargon itu pun berawal dari kenyataan bahwa masyarakat Pulau Timor memang memiliki akses sulit terhadap air bersih. Khususnya di Desa Bitobe, warga harus berjalan kaki hingga hitungan belasan kilometer hanya untuk seember air bersih. Letak mata air sangatlah jauh dari batas desa, warga pun tak memiliki dana untuk membuat aliran air bersih ke dalam rumah. Untuk makan saja mereka sudah sulit, apalagi jika harus membangun infrastuktur aliran air.
  1. Karena jauhnya sumber air, anak-anak di Desa Bitobe harus membawa jeriken air sebelum berangkat dan sepulang sekolah.
Nantinya jeriken air yang dibawa ke sekolah akan digunakan untuk keperluan di sekolah, sedangkan air yang dibawa sepulang sekolah akan digunakan untuk keperluan di rumah.
  1. Kondisi fasilitas Sanitasi Dasar sangat tidak layak dan tidak memadai.
Serupa dengan permasalahan pelik kawasan yang terisolir, terpencil dan tertinggal, minimnya pendidikan atau informasi yang dimiliki warga Desa Bitobe terhadap perilaku hidup sehat dan bersih membuat penduduk desa amat rentan terkena penyakit seperti diare, demam berdarah, dll.
  1. Perjalanan menuju Desa Bitobe harus ditempuh dengan perjalanan darat, menembus hutan dan gurun sabana yang gersang khas Pulau Timor. Lokasinya pun amat berdekatan dengan batas negara wilayah Timor Leste bagian Barat.
Infrastruktur jalan menuju Desa Bitobe termasuk yang paling terbelakang di wilayah Pulau Timor. Kontur topografinya berbukit-bukit, gersang, minim pepohonan hijau, kondisi infrastruktur jalan yang tidak bagus, serta seringkali tidak bisa dilalui bila musim hujan. Jarak dari kota Kupang sekitar 180-200 km, karena kondisi jalan yang kurang baik, harus ditempuh dari Kota Kupang selama 5 hingga 7 jam perjalanan menggunakan mobil 4WD.
  1. Inilah bentuk kamar mandi yang ada di desa Bitobe.
Terpencil di tengah padang gersang, jauh dari rumah. Hanya berupa bilik kecil yang terbuat dari batang kayu yang hanya bisa digunakan untuk buang air kecil. Untuk keperluan airnya, warga terlebih dahulu harus berjalan kaki beberapa kilometer membawa jeriken air.
(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar