Angka Kekerasan di Thailand Selatan Menurun Drastis Selama Bulan Ramadhan

19.19
Ramadhan-thailand
Thaiiland Selatan, sudah sekian lama menjadi tanah ruangan bernaung para Muslim Thailand di kawasan Asia Tenggara. sampai kini nyatanya memang lah lah tak sedikit yang mengira bahwa Thailand yaitu rumah bagi mayoritas warga negara homogen di Asia Tenggara yang rata-rata beragama Buddha. Namun sesungguhnya Thailand memiliki tak sedikit ragam etnis dan agama.
Muslim Thailand berada di wilatah selatan, mayoritas menempati wilayah Pattani. saat ini di Pattani ada kira kira 2 juta warga Muslim, muslim Pattani menjadi mayoritas di tengah sejumlah kecil masyarakat non muslim yang hanya kira kira 200.000. terkecuali di Pattani, muslim Thailand pun tersebar di sekian tidak sedikit provinsi wiayah Gajah Putih itu, antara lain di Yala (68,9%), Narathiwat, Satun (67,8%), dan Songkhla. secara historis, muslim di Thailand memiliki histori yang panjang. Dahulunya semua provinsi muslim di Thailand Selatan termasuk juga serta ke dalam wilayah Kerajaan Pattani Raya di sekitar abad ke-12, sebelum kerajaan Sukhotai berdiri.
Seiring berjalannya diwaktu, kisah muslim di Thailand serta makin lama serupa dgn kasus keberadaan muslim di tengah mayoritas. Krisis dan konflik paling tidak jarang tak terhindarkan. Pemerintah Thailand mencatat bahwa sedikitnya lebih dari 6.000 orang telah tewas dan kurang lebih 10.000 orang terluka karena konflik komunal dan kekerasan separatis yang dilakukan oleh gerilyawan selatan dan Junta Militer Thailand sejak 2004 hingga 2014 silam.
Namun dibalik angka kekerasan tersebut, nyatanya bulan Ramadhan thn ini membawa banyak keberkahan bagi para muslim di Thailand Selatan. Dilansir dari laman Bangkokpost menuliskan bahwa dalam pekan perdana ramadhan dahulu, hanya berjalan lebih kurang 13 kasus kekerasan. Jumlah yang menurun drastis di bandingkan dgn beberapa masa dahulu dimana angka kekerasan mencapai 48 kasus
Angka tersebut didapatkan dari Juru Berkata Region 4 Internal Security Operation Command (ISOC) Kolonel Pramot Prom-in yang melaporkan situasi di kamp Sirindhorn di distrik Yarang Pattani. Angka berkurangnya secara drastis kasus kekerasan di Pattani dipercaya penuh akibat dari berjalannya rutinitas bulan Ramadhan di tengah –tengah masyarakat.
Sejak pekan pertama bulan ramadhan, hingga hari ini memasuki hitungan 10 hari terakhir ramadhan, terdapat lima insiden kekerasan yang menelan tiga orang tewas dan 4 korban luka-luka, semua korban dipastikan merupakan masyarakat asli Pattani. Sewaktu bulan ramadhan ini pula dilaporkan ga ada letusan-letusan kembang api. Untuk diketahui, dalam beberapa kesempatan terakhir, konflik di Pattani bisa terlecut karena letusan kembang api pada beberapa lokasi beribadah, sehingga memicu konflik komunnal sebab kembang api mengganggu kegiatan keagamaan.
Bahkan di bulan ramadhan th ini, bersama pertimbangan hak-hak kemanusiaan maka pemerintah Thaliand mengizinkan sedikitnya 30 stasiun radio mengudara kembali tatkala Ramadhan, terhitung sejak mulai 17 Juni hingga 16 Juli. Stasiun radio tersebut dibolehkan menyiarkan gerakan umat Islam sewaktu Ramadhan di wilayah ruang udara siar Pattani.(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar