Memasuki Musim Kemarau: Ketika Air di Tanah Indonesia Mulai Menyusut

20.19
bencana-kekeringan
Usai melewati tantangan berupa menahan hasa nafsu dan emosi selama bulan Ramadhan, sekarang ini warga Indonesia sedang menghadapi tantangan baru berupa ancaman musim kemarau yang sanggup berubah menjadi bencana. Sesungguhnya, musim kemarau di Indonesia telah sejak mulai sejak menampakkan gejalanya sejak awal Bulan Maret lalu. Tetapi tak sedikit pihak memprediksi, puncak kemarau di th mampu berlangsung selama Juli hingga November.
Musim kemarau terkait dengan fenomena air bersih yang semakin menyusut akibat berkurangnya curah hujan. Mengkonsumsi air bersih lebih dari 250 juta masyarakat Indonesia memang lah betul-betul masif. Tahukah Anda bahwa sesungguhnya mengonsumsi air bersih itu sebetulnya tak hanya sebatas untuk minum, mandi, cuci, masak?
Nyata-nyatanya mengonsumsi air bersih tidak hanya milik rumah tangga saja, jumlah air bersih yang tersedia di muka bumi harus dibagi pun untuk mengonsumsi industri yang tak sedikit banyaknya. Bayangkan untuk memproduksi satu kilogram daging dibutuhkan 15.000 liter air dan 8.000 liter air buat memproduksi suatu celana jeans. hal itu menunjukkan mengkonsumsi atas sekian banyak barang tersebut jauh lebih banyak dari rata-rata air yang dikonsumsi, kurang lebih delapan liter per hari. Ribuan liter air buat industri itu pula didapat dari air hujan dan air permukaan atau air tanah
Seperti yang dilansir dari laman CNN, meskipun lebih dari 70 prosen kondisi terlihat muka permukaan bumi terdiri dari air, tetapi bukan berarti sumber daya air di bumi melimpah dan tak akan habis. Air bersih yang layak dipakai utk kelangsungan hidup manusia nyatanya berada dalam volume yang amat sedikit. Air tanah yang menjadi konsumsi sehari-hari dapat menghilang tak bersama sejak seandainya memasuki masa kemarau. Hujan yang tak kunjung datang selagi berbulan-bulan bahkan bakal menyebabkan bencana kemarau fatal.
beberapa pekan terakhir, kabar berkenaan makin kritisnya kondisi air bersih di Indonesia datang dari wilayah Provinsi jawa tengah. Sebanyak lima dari 39 waduk yang berada di jawa tengah sejak mulai sejak mengering dan dikhawatirkan mampu mengganggu kuantitas pula kualitas hasil pertanian.
Dilansir oleh laman antaranews, tiga dari lima waduk yang mengering itu berada di wilayah Kabupaten Sragen, ialah Waduk Brambang, Blimbing, dan Botok, sedangkan dua waduk yg lain yang juga mengering ialah Waduk Gunungrowo, Kabupaten Pati, pun Waduk Sanggeh, Kabupaten Grobogan.
Ketika Ini, debit air di waduk yang mengering itu memang lah belum teralalu mengganggu kapasitas penyaluran air ke wilayah pertanian dan persawahan. Namun diprediksi pada puncak kemarau antara Agustus hingga September nanti debit air di 10-15 waduk agung lainnya di jawa tengah bisa habis dan kering tak berdaya.
Mengantisipasi ancaman kekeringan ini, seluruhnya aspek di harapkan dapat menjaga mengonsumsi air hingga pada konsumsi minimum serta berikhtiar terobosan pengadaan air bersih dengan pengadaan sumur baru atau pipanisasi segera ke rumah-rumah masyarakat. (CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar