Mengungkap Sejarah Islam Bertumbuh Kembang di Tolikara, Papua

19.45
lembah-karubaga
Sepekan dulu, nama Tolikara berdengung kencang dalam tiap-tiap pasang kuping warga Indonesia. Seluruhnya stasiun tv nasional kompak membincangkan aspek mirip. Seluruhnya berputar dalam tiga kata kunci : Tolikara, Kerusuhan Bermotif Agama (?), & Pembakaran Masjid & Kios.
Bisa Saja beberapa ratus juta masyarakat Indonesia tidak mengenal makin jauh Kab Tolikara, Kota Karubaga, Papua sebelum insiden penyerangan & pembakaran kios & muslim menghentak khalayak di pagi hri, Jumat 17 Juli silam. Sesaat sesudah shalat idul fitri cepat dilaksanakan di seluruhnya penjuru Indonesia.
Kota Karubaga, Kab Tolikara sejauh ini memang lah terpencil dalam ingar bingar Kota agung di wilayah barat Indonesia. Karubaga District dengan cara alur transportasi cuma mampu di capai dari bandara Wamena di wilayah tengah Papua. Di benak masyarakat Pulau Jawa, Karubaga terang kalah tenar di bandingkan Kota Jayapura, Biak, Timika, lebih-lebih Raja Ampat.
Kota Karubaga terletak di antara cekungan perbukitan tinggi & lembah dalam yg jadi khas wilayah tengah Papua. Seperti wilayah terpencil lain di pegunungan tengah Papua, Karubaga bernasib mirip, jadi tepian negara yg tertinggal pembangunannya, terkucil dalam himpitan gunung tinggi nan eksostis.
Pasca insiden penyerangan jamaah salat Idul Fitri, 17 Juli dulu di Distrik Karubaga, pertanyaan juga menyeruak. Seberapa tidak sedikit muslim yg berada di Karubaga? Sejauh mana Muslim berkembang di distrik itu?
Wartawan ACTNews, Yusnirsyah Sirin menjelaskan kisah perjalanannya di Karubaga sekian banyak diwaktu silam. Seandainya merunut peristiwa awal Islam di wilayah tengah Gunung Papua ini, Islam di Karubaga dipelopori oleh tiga orang bernama Sukuran, Iriansyah, & Lakadi. Merekalah muslim perdana di Karubaga Tolikara, & ketiganya ialah anggota TNI. Sukiran berasal dari Jawa, Iriansyah asal Enrekang Sulawesi Selatan & Lakadi asal Buton. Setahun setelah itu datang empat orang guru lagi yg pula muslim ke Tolikara, mereka Sudoto , Ponidi, Meter.Tajri & Arsiswanto.
Setahun berikutnya pemerintah mendatangkan lagi 25 guru utk disebar ke sekian banyak wilayah di Kecamatan Karubaga. Sejak itulah, makin ramai umat Islam di Karubaga. Dgn 25 guru muslim itu, ada pula 5 guru yg beragama nasrani, adalah Suyono & istrinya Sudarti, Sugeng yg masihlah lajang & Hri yg serta datang dgn istrinya.
Thn 1987, demi kepentingan menampung mereka yg mau salat berjamaah, seseorang saksi peristiwa perkembangan Islam di Karubaga, Eko (bukan nama sebenarnya) membobol ruangan tamu & satu area tidur rumahnya buat dijadikan musala.
Th demi thn berganti, jumlah muslim di ruang itu makin membesar dgn didatangkannya tidak sedikit Polisi dari Makassar & Jawa.
Thn 1989 bersama dana swadaya, kaum muslim di Karubaga berinisiatif membeli tanah milik penduduk setempat utk kepentingan membangun musala. Meskipun sertifikat tanah belum terbit & dikarenakan transaksi telah berjalan, umat di Tolikara telah menggunakan musala. Setahun berikutnya, mereka mulai sejak membangun ulang musala jadi masjid seluas 6×6 m persegi di atas lahan yg dibeli tadi. Waktu itu, papar Eko, Menteri Agama Munawir Sjadzali , berikan pertolongan renovasi masjid segede Rupiah. 1.800.000.
Sesudah berikhtiar status tanah sejak dibeli, thn 1991 terbitlah sertifikat tanah utk masjid tersebut. Ketika sertifikat tanah masjid ini ke luar, terdaftar ada lebih kurang 75 orang muslim. Nama-nama mereka terdaftar di secarik kertas yg terselip di dalam sertifikat tanah. Merekalah penggerak awal gimana dakwah di Tolikara bisa berjalan damai bersama agama lain di Tolikara. Sejak th 1990, salat Idul Fitri telah terjadi di luar area layaknya sama seperti muslim di ruang lain.
Salat masihlah sanggup terjadi di ruangan itu sewaktu bertahun-tahun, sampai selanjutnya insiden histori penyerbuan massa di takbir ketujuh rakaat mula-mula salat Idul Fitri, 17 Juli 2015 itu berlangsung.
Jumlah muslim sebelum kerusuhan kira kira 160-an KK, atau seputar 700-an orang., tetapi waktu ini sebanyak masihlah belum terdata kembali bersama baik. Di halaman markas Koramil 1702-Xl Tolikara, dengan aparat keamanaan, mereka cerai-berai waktu bakal mengangkat takbir ketujuh di rakaat perdana salat Idul Fitri sebab diserang sekelompok massa.(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar