Mengintip Ibadah Ramadhan Rohingya sebagai Pengungsi di Malaysia

19.22
Ramadhan-rohingya-malaysia
Entah sudah berapa puluh kali momen ramadhan tak pernah terasa membahagiakan bagi ratusan ribu etnis Rohingya yang tersebardi beragam kamp pengungsian kawasan Asia Tenggara. Sejak puluhan thn lalu, etnis Rohingya yang makin tersudut dan terkucilkan di tanah kelahirannya Rakhine, Myanmar memutuskan utk menjelajah yang merupakan imigran gelap, hanya berbekal badan mereka mengarungi ganasnya laut, hingga terdampar sebagai pengungsi tak legal, di Thailand Selatan, Bangladesh, Malaysia, dan terakhir di Indonesia. 

Kota Ampang Tasik Permai, satu kota tak terlalu besar yang terletak di tepian Ibukota Kuala Lumpur, Malaysia. Kota ini menjadiruang kantong paling akbar pengungs Rohingya di Malaysia. Rata-rata dari mereka yakni gelombang pengungsi Rohingya yang sudahbergerilya ke luar dari Rakhine lebih dari 2 dekade dahuluSebagian besar dari pengungsi Rohingya di Kota Ampang Tasik Permaitelah menjejakkan kakinya yg yaitu pengungsi di sini sejak dekade 1980-an silam. 

Pemerintah Malaysia dan Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah menyebutkan data bahwa ada lebih dari 150 ribu pengungsi Rohingya yang menetap di Malaysia.Jumlahnya 90 persen dari ratusan ribu pengungsi Rohingya itu ialah orang Rohingyayang melarikan diri dari diskriminasi dan kekerasan yang telah mereka terima sejak dekade lalu di negara bagian Rakhine, Myanmar. 

Setelah beberapa dekade memulai kehidupan baru di Malaysia, pengungsi Rohingya di Kota Ampang Tasik Permai telah berhasilmembaur dgn penduduk sekitarSebagian dari mereka bahkan ada yang sudah menikah dengan masyarakat muslim melayu Malaysia.banyak pernikahan yang seterusnya menciptakan akulturasi atau pencampuran budaya antara Melayu dan Rohingya, tak sedikit jugayang selanjutnya melahirkan anak keturunan Rohingya di tanah Malaysia ini. 

Namun, bukan berarti bercampurnya budaya Melayu dan Rohingya telah melupakan akar mereka yg ialah Rohingya. Sewaktumenunggu status permintaan suaka kepada Pemerintah Malaysia, sebagian gede dari muslim Rohingya di Kota Ampang Tasik Permaimasihlah menjalankan puasa ramadhan tahun ini bersama kesederhanaan. Setidaknya sederhana yang jauh lebih baik ketimbang nasib puluhan ribu saudara Rohingya mereka yang tetap “terjebak” di Rakhine hingga detik ini. 

Seperti kisah yang dilansir oleh laman CNN, Untuk mengobati rasa rindu kepada kampung halaman, sebagian pengungsi memilihmenyiapkan menu berbuka puasa bersama hidangan tradisional mie yang biasa mereka santap di kampung halaman. 

Berjalannya penerimaan dan toleransi oleh warga original Kota Ampang Tasik Permai kepada ribuan pengungsi Rohingya mengingatkan dgn kisah Rohingya di Aceh beberapa kala lalu. Apa alasan keterbukaan dan rasa sayang yang diberikan oleh pendudukKabupaten Aceh Utara pada dua ribuan orang Rohingya setidaknya memperoleh penjelasan dari pembauran yang telah berlangsungdi Kota Ampang Tasik Permai selama beberapa dekade. 

Sewaktu bertahun-tahun bahkan sejak puluhan thn lalu, pengungsi Rohingya hidup berdampngan dengan penduduk muslim Melayu Malaysia. Mereka beribadah bersama, menjalankan ramadhan dengandan bersosialisasi harusnya manusia normal yg lain. WargaMelayu Malaysia banyak yang telah mempunyai anggapan Rohingya merupakan saudara yang benar-benar lah harus ditolong. Rohingya datang ke Malaysia untuk mencari nafah dan mencari keamanan dari kejamnya diskriminasi di Rakhine. 

Waktu Ini Ini sekian banyak ratus ribu pengungsi Rohingya di Malaysia benar-benar telah menerima kehidupan yang setidaknya lebih aman dan lebih nyaman. Namun tetap saja mereka masih belum diakui sebagai masyarakat negara manapun, akibatnya pekerjaanserta minim buat mereka. Meski tak ada kesempatan bekerja secara legal, tak sedikit dari pengungsi Rohingya di Malaysiamelaksanakan pekerjaan kasar yang enggan untuk dilakukan oleh penduduk setempat. Hanya sekadar utk membeli sebungkus nasidan segelas air juga sebagai santap sahur dan menu berbuka istri dan anak-anak mereka.(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar