Melihat Potret Kehidupan Masyarakat Perbatasan di Tepian Negeri

19.59
tepian-negeri
Jikalau kita masih mempunyai anggapan bahwa warga Indonesia itu hanya suku Jawa, Suku Bali, suku Batak, Suku Dayak, dan Suku Makassar saja bisa saja saja kita masihlah kurang jauh dalam berjalan. Kurang dalam memaknai negeri ini dgn ribuan perbedaan dan kemajemukan budayanya. Indonesia adalah negeri kepulauan dgn total tujuh belas ribu pulau, Indonesia serta tercatat oleh UNESCO yg yakni negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Sebagian akbar garis pantai itu berada di tepian negeri. sebuah kekayaan alam yang menjadi hak milik masyarakat perbatasan.
hingga sekarang cara sudah amat sangat akrab dengan kehidupan khas adat perkotaan, bersama segala kemajuan internet, listrik 24 jam berdaya tak terhingga, saluran fasilitas yang begitu komplit hingga alat infrastruktur yang terhampar dalam kondisi amat sangat patut.
Tapi pernahkah terbayang olehmu tentang kehidupan saudara-saudara satu bangsa yang berada di tepian negeri? Masyarakat perbatasan yang berada di kecamatan paling ujung Nusantara?
Berikut yaitu potret nyata berkenaan kehidupan mereka, warga perbatasan. Segelintir saudara sebangsa yang rela hidup di tepian negeri. Menjaga tanah leluhur mereka walaupun dengan segala keterbatasan.
1. Jangan harap ada infrastruktur yang apik di tepian negeri 
Sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa kondisi wilayah di garis batas Indonesia teramat teramat memprihatinkan. Walaupun paling tidak jarang disebut juga sebagai teras negeri yang seharusnya menjadi garda depan bagi negara-negara yang bersinggungan di perbatasan, tapi nyatanya kondisi infrastruktur di kawasan tepian negeri sama sekali tak mampu dibilang pantas. Sekolah yang apik, akses jalan yang baik, sanitasi yang bersih, hingga ramainya aktivitas perdagangan di pasar adalah elemen yang fana bagi mereka penduduk perbatasan.
2. Akses transportasi tersedia 24 jam? Satu minggu sekali saja sudah beruntung 
Bagi mereka masyarakat perbatasan di tepian negeri, akses transportasi yang tersedia 24 jam yakni angan-angan yang mungkin saja tak mau kemungkinan terwujud. Kemungkinannya hanya ada dua : Barangkali pertama, seandainya wilayah tepian negeri berada di daratan, maka sangat jarang transportasi umum sanggup mengantar sampai ke pintu gerbang desa, kalaupun ada mungkin saja hanya ojek motor yang melewati lautan lumpur seperti yang ada di kecamatan perbatasan antara Malaysia dan Indonesia di Entikong. Mungkin Saja kedua, kalau wilayah tepian negeri berada di Pulau kecil ditengah luasnya Samudera seperti di Kepulauan Riau, Kepulauan Maluku, Kepulauan Talaud, dan Kepulauan Timor, maka akses transportasi kapal laut hanya tersedia paling minim selama satu minggu sekali. Itu pun apabila ombak sedang kalem, bila laut berubah ganas, maka penduduk perbatasan harus siap bersama stok makanan yang menipis ataupun aktivitas perdagangan yang terhambat sebab ga ada kapal merapat ke dermaga pulau kecil mereka.
3. Bagi warga perbatasan, bisa untuk ber-sms saja sudah amat sangat beruntung. 
Kasus yang terus saja berlangsung di wilayah tepian negeri merupakan minimnya akses sinyal telepon genggam masuk ke wilayah terpencil mereka. Jangan Sampai harap mampu menerapkan gaya hidup 24 jam membuka internet seperti di kota-kota gede di Indonesia, bakal mengirimkan sms saja yakni faktor yang amat berharga bagi mereka. Sinyal telekomunikasi yaitu sesuatu yang mahal di tepian negeri. Sulitnya terhubung bersama dunia luar lantaran ketiadaan sinyal telpon genggam semakin mengucilkan hidup mereka dalam pesatnya kemajuan kota.
(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar