Ini Kisah Abu Kalam, Sosok Suadagar Bertangan Emas dari Rohingya

19.37

Pedagang dari Rohingya
Kendati jadi bidang pengungsi, tidak berarti membiarkan jiwa dagang mati. Bisa Jadi itu yg berada dalam benak Abu Kalam, sosok cowok Rohingya yg sekarang tinggal dalam Komplek Integrated Community Shelter (ICS) Blang Adoe, Kuta Makmur, Aceh Utara. Biarpun hidup juga sebagai pengungsi yg sarat bakal duka & pilu sebab tidak miliki kewarganeraan sama sekali, Cowok berumur 20 thn ini serta berjualan sayur mayur di salah satu shelter yg beliau tinggali dgn empat laki-laki Rohingya yang lain.
Dikala di kampungnya di Sahifara, Sittwe, Myanmar, Kalam mengaku pekerjaannya benar-benar berdagang. Tetapi sebab keadaan kampungnya yg tidak aman, beliau mencari peruntungan dgn ikut naik kapal menuju kemana saja negeri di mana dirinya bebas berjualan. Itulah sebabnya, Dirinya memutuskan utk konsisten terhubung bisnis berdagang sayur di shelter. Dirinya punyai prinsip, berdagang terkecuali utk usir kejenuhan & mengasah jiwa dagangnya, pula menginginkan mudah-mudahan ada sedikit laba yg didapat. Laba itu, seandainya mencukupi, dapat beliau kirim ke kampung di tanah kelahirannya Rakhine.
Tetapi meski Dirinya berprinsip hidup sama seperti Abdurrahman Badan Intelijen Negara Auf, seseorang sohib nabi saudagar “bertangan emas”, Kalam konsisten type manusia tahu diri. Saat ditanya berkenaan kegiatannya berdagang di dalam shelter, Kalam buru-buru bicara, ”Masalah? Market Abu Kalam tutup,” ucap Kalam. Maksudnya, merupakan kalau gerakan dagangnya mungkin saja masalah, dirinya bersama gemar hati dapat tutup dagangannya. Tetapi pasti saja, sama sekali tidak ada pihak yg mempermasalahkan ikhtiar halal yg diusahakan oleh Kalam. Bahkan justru menjadikannya yang merupakan sosok panutan seberapa jauh orang Rohingya di Aceh mampu mandiri.
“ Seandainya market ada, market Abu Kalam (pula dapat) tutup,” papar Kalam lagi dgn senyum. Maksudnya, bila pasar yg dapat dibangun Perbuatan Segera tanggap di dalam ICS telah di buka, Kalam bersama suka hati dapat menghentikan kegiatan berjualannya.
Abu Kalam nyata-nyatanya telah berjualan sejak 10 hri yg dulu. Bersama aset 300 ribu rp hasil pemberian dari para dermawan yg berkunjung, Kalam belanja sayur mayur, seperti tomat, jengkol, mentimun, cabe rawit, cabe kering, bumbu, kentang, ikan layur, minyak goreng, margarin, & lain-lain.
Macam Mana Kalam berbelanja? Ada orang Aceh kenalannya yg membantu membelanjakan uangnya ke pasar. Gerakan dagang sayur mayur Kalam disambut baik, utamanya, oleh ibu-ibu Rohingya. Tampak, banyaknya ibu-ibu ke luar masuk shelter Kalam belanja sayur. Ada pula ibu-ibu Rohingya yg menitipkan duit ke Kalam, agar dibelikan peralatan dapur, seperti panci & wajan. Hasilnya ekonomi pula berlangsung meski cuma di dalam lingkup mungil kompleks shelter Rohingya, Subhanallah.
“ Ada yg bayar (serentak), ada yg ambil saat ini, bayar kelak(hutang), tidak ada duit” kata Kalam. Biasa, ibu-ibu, dimana-mana, benar-benar menyukai utang sayur. Kalam jual dagangan dgn ambil margin 500 hingga 3000 rp. Contohnya, satu mentimun akbar dipasarkan perbiji 2.500 rp dari harga aset 2.000.
“ Ini mentimu, beli 2.000 (perbiji), aku menjual dua 5.000. Tidak Sedikit tawar empat ribu, Kalam tak untung,” jelasnya. Satu plastik jengkol, dgn berat satu kilo lebih, aset beli Rupiah 10.000, Kalam menjualnya Rupiah 12.000.
Dari hasil keuntungan, Beliau dapat menelepon keluarganya di kampung. Usut punyai usut, Dirinya memiliki satu orang istri Bibi Ni (16) & telah mempunyai 3 orang anak & ibu yg dirawat istrinya dikarenakan telah renta. Sementara Kalam mengaku ayahnya terbunuh dalam rusuh berlatar SARA di kampungnya. “Untung masihlah sikit, belum kirim ke kampung,” ungkapnya
Bahasa Indonesia Kalam yg pass tidak tersendat juga pembawaannya yg ramah, membuatnya disenangi tidak sedikit orang. Sesudah bercerita lebih jauh, nyata-nyatanya Kekuatan bahasa Indonesianya didapat dari niatan belajarnya bersama kawan Rohingya yg buka kelas bahasa di lingkungan shelter. Tidak Cuma Bahasa Indonesia, Kalam juga menyempatkan menggali ilmu Bahasa Inggris.
“ (Disaat) mencari ilmu bahasa, Kalam market tutup,” ujarnya dgn wajahnya yg senantiasa sumringah, murah senyum.
(CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar