Sikap Indonesia atas Rohingya

20.21

img: tempo.co

Sebuah catatan hati dari Fahri Hamzah | WakilKetua DPR R
Segenap pendiri Indonesia sadar betul pentingnya terlibat aktif dalam dinamika Internasional. Hal ii mengacu pada UUD ‘45 diantaranya “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.”  Sejak awal founding fathers kita sadar untuk ikut dalam perdamaian dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Soekarno, Bapak pendiri bangsa sekaligus presiden paling legendaris sepanjang sejarah bangsa dikenal di dunia karena dunia tahu betul, bagaimana Soekarno terlibat dalam persahabatan kelas global. Namun Sepertinya makin ke sini, sikap negara terhadap pergaulan global makin menciut bahkan seakan-akan mengisolasi diri dari pergaulan internasional. Malah, nampak kekanak-kanakan saat menganggap seolah-olah pergaulan internasional tidak penting.
Akibatnya, nama Indonesia hilang dari pentas dunia sebagai negara demokrasi besar ketiga di dunia dan negara muslim terbesar di dunia. Indonesia tidak dianggap! Kita menderita kerugian luar biasa sampai hari ini tak hanya dalam ekonomi, dalam politik pun Indonesia nihil ide, nihil kerja. Tidak dianggap!
Qatar, negara Teluk dengan penduduk asli cuma 200an ribu jiwa, bisa sangat populer berkat keterlibatannya dalam percaturan politik di dunia. Ini membangun wibawa masyarakatnya. Indonesia? Malah seakan “mengisolasi diri”. Bahkan saya sebagai pembuat UU, anggota DPR dan sekarang menjadi pimpinan DPR, menyaksikan hari-hari ketidakmauan dari para pejabat kita untuk punya masalah dengan luar negeri. Politik bebas aktif yang kita warisi berubah menjadi tidak bebas dan tidak aktif;  Gerakan Non Blok inisiasi Bung Karno, malah menjadi tidak bergaul. Itulah pola pikir pejabat kita saat ini.
Orang-orang Arab yang super kaya itu pun akhirnya hirau pada Indonesia, tak menjadikan Indonesia tujuan pembangunan kapital, meski dari sisi ekonomi tak sebanding dengan Singapura dan Malaysia. Kita besar tapi diabaikan karena tidak pernah mau bergaul.
Dalam konteks Rohingya, saya ingatkan pihak imigrasi, krisis kemanusiaan harus ditanggapi. Sikap Indonesia atas Rohingya harus tegas. Bukankah tanah kita amat luas, kita punya 17ribu pulau? Ironis, saat saya mencoba mencantumkan kata “pencari suaka” saja di dalam rancangan UU, ditentang banyak pihak terutama Kementerian Luar Negeri. Mereka mengatakan, itu hanya “kepentingan internasional”.
Saatnya kita kirim kabar ke dunia, indonesia adalah negara di atas negara, bahkan diatas simbol-simbol lainnya. Kita pelayan kemanusiaan global yang siap mengatasi problem kemanusiaan dunia. Ini kita yakini sebagai pintu rezeki kita, bukan malah berpikir “Kalo mengurusi pengungsi kita malah susah”. Kalau manusia adalah ciptaan Allah yang terbaik, pasti mereka bukan beban. Justru mereka baik bagi kita, baik bagi peradaban kita, baik bagi kebudayaan kita, kalau mindset dirombak, barulah Indonesia bisa tampil sebagai pemain global.
Saya pribadi amat mengapresiasi langkah Komite Kemanusiaan untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) dan lembaga kemanusiaan sejenis. Ini karena teman-teman telah mengembalikan jati diri diri bangsa ini, terutama sebagai bangsa dengan muslim terbesar. Karena telah berani menyeret, memaksa menyeret untuk terlibat, bahkan kita harus membuat advokasi tentang regulasinya, tentang institusinya, supaya resmilah Indonesia memberikan perlindungan kepada gerakan sosial kita yang telah memberikan dukungan kepada masyarakat yang mengalami problem kemanusiaan global. Jelas sudah penegasan sikap Indonesia atas Rohingya. Menghadapi krisis global sekarang ini, seharusnya bangsa Indonesialah yang bisa menanganinya. Jika Indonesia ingin memimpin bangsa-bangsa di dunia, katakanlah di PBB bisa punya suara dominan, atau punya pengaruh lebih luas, tentu peran-peran kemanusiaan harus digiatkan.
Saatnya kita mengadvokasi peraturan-peraturan yang mendukung rakyat dan bangsa Indonesia bisa menyebar ke seluruh dunia sebagai tenaga-tenaga kemanusiaan. Jika itu terjadi dan dicanangkan oleh generasi ini, insya Allah kelak anak-cucu kita melihat Indonesia menjadi bangsa yang dicintai bangsa-bangsa lain, karena agama, karena kemanusiaan, dan keterlibatan mereka membantu kemanusiaan. Tunjukkan kepada dunia cara terbaik menangani problem kemanusiaan global secara jujur dan sejati, tanpa kepentingan apapun di baliknya!
—-
*Disampaikan dalam “Urun Rembug Nasional Solusi Tuntas Melayani Rohingya”,  inisiatif Komite Nasional Solidaritas Rohingya di DPR-RI, 20 Agustus 2015
Previous
Next Post »
0 Komentar