Dilema Penggusuran Kampung Pulo, Apa Penyebab Warga Ricuh?

20.33

Penggusuran Kampung Pulo
Sepekan dulu publik Jakarta terbagi dalam dua kubu yg saling pergi belakang. Berkompetisi mulut dalam alat sosial, memperdebatkan satu masalah pelik yg sudah mengahantui Jakarta sejak puluhan th, lebih-lebih jika bukan kasus penggusuran Kampung Pulo.
Penyebab perdebatan itu merupakan kejadian anarkis yg berjalan Kamis, 20 Agustus 2015. Hri itu jadi puncak dari amarah masyarakat Kampung Pulo yg melawan atas penggusuran rumahnya di tempat bantaran Ciliwung yg jadi kawasan target normalisasi sungai.
Sewaktu ini, menyempitnya aliran sungai Ciliwung akibat rumah-rumah liar yg berada di sepanjang bantarannya diakui jadi argumen mutlak kenapa bencana banjir agung senantiasa menyapa Jakarta nyaris tiap-tiap tahunnya. Dulu, sungai Ciliwung bahkan sempat miliki julukan The Queen from the East yg jadi kebanggan penduduk Batavia lantaran keindahan & kejernihan airnya. Tapi saat ini Ciliwung yg dibanggakan cuma tinggal tumpukan sampah & jajaran rumah liar yg makin menyempitkan alirannya.
Hasilnya minggu dulu Pemerintah DKI bertindak tegas bersama jalankan penertiban massal di Kampung Pulo. Sederetan rumah “liar” semi pemanen & permanen berjumlah beberapa ratus digusur & ditertibkan demi normalisasi aliran sungai. Tetapi penggusuran Kampung Pulo step mula-mula itu hasilnya berujung kepada kericuhan
Apa yg jadi penyebab ricuhnya masyarakat Kampung Pulo sampai berujung kepada bentrokan gede beberapa ratus orang dari dua kubu yg “berseteru” bahkan sampai sebabkan satu backhoe bernilai milyaran rp dibakar masyarakat?
Dilansir dari page Tempo.co, Ketua Populasi Ciliwung Merdeka Sanyawan menuturkan argumen mutlak apa penyebab rusuhnya penduduk diwaktu penggusuran Kampung Pulo sepekan dulu. Menurut penjelasannya, sehari sebelum penggusuran penduduk telah sepakat tidak mau memunculkan perlawanan & memancing kerusuhan. Tetapi penduduk ajukan satu kesepakatan yg mesti dipatuhi serta oleh Pegawai & aparat gabungan dari Pemprov DKI. Mengisi kesepakatan tersebut menyebut permintaan penggusuran Kampung Pulo cuma dilakukan terhadap rumah yg benar-benar telah dikosongkan pemiliknya. Aparat setelah itu setuju, tapi Camat Jatinegara Sofyan Taher menolak permintaan tersebut.
Sofyan beralasan, seluruhnya rumah yg terdata wajib dibongkar hri itu serta. Pendapat keras itu setelah itu memicu amarah penduduk. Hasilnya dikala yg bersamaan, aparat gabungan malah melaksanakan penyemprotan gas air mata ke arah penduduk. Hasilnya penduduk pula semakin terprovokasi. Suasana penggusuran Kampung Pulo yg awalnya kondusif jadi makin beringas sebab sebanyak masyarakat yg telah terlanjur berkumpul dijalan Jatinegara Barat. Kabar yg mengalir di antara masyarakat serta semakin simpang siur & memunculkan spekulasi yg panas.
Hasilnya kericuhan pula berlangsung. Sekumpulan penduduk yg memenuhi jalan Jatinegara Barat makin beringas. Kejadian lempar batu, beling, & apapun benda keras bersahutan antar dua kubu aparat & penduduk. Puncak amarah penduduk juga tersulut dikala sekelompok anak belia beritindak anarkis dgn lakukan pembakaran terhadap sarana backhoe milik Pemprov DKI. (CAL)
img : tempo.co
Previous
Next Post »
0 Komentar