Dari Indonesia untuk Gaza: Begini Kondisi Apik Sekolah Difabel Pertama di Gaza

21.09
Sekolah Difabel di Gaza, Palestina dari Indonesia
Bagi Indonesia, nama Gaza bisa jadi tidak ubahnya seperti salah satu nama propinsi Indonesia. Gaza demikian dikenal, demikian membekas dalam ingatan penduduk Indonesia. Segala tragedi kemanusiaan yg sempat menghantam Gaza seketika membangkitkan kepedulian mayoritas penduduk di negara ini. Tidak memandang apa ras, gimana suku, lebih-lebih agamanya.
Tapi, tidak dapat dipungkiri, menjalankan acara kemanusiaan dalam wujud apapun di Gaza, Palestina benar benar susah! Embargo ekonomi & tertutup rapatnya Gaza dari segala penjuru oleh tembok-tembok akbar komplit dgn penjagaan tentara bersenjata Israel sudah menciptakan Gaza bagaikan penjara raksasa. Utk masuk Gaza saja telah susah, terlebih membangun satu buah bangunan fisik baru demi membangkitkan penduduk Gaza dari keterpurukan. Sama sekali tidak semudah membalikkan telapak tangan!
Tapi tempo hari, Pekan (20/9) sumbangsih penduduk Indonesia pada bencana kemanusiaan yg mendera penduduk Palestina tatkala sekian th terlihat nyata. Satu Buah bangunan ciamik nan mutahir bernama Shams Al Amal, A School for Disabled Children, Gaza, Palestina. Berhasil diresmikan oleh Populasi Akhwat Bergerak dengan Perbuatan Segera Tanggap (ACT).
Shams-al-Amal (14)
Gambar via Twitter Dr.Bassel AbuWarda (@DrBaselAbuwarda)
Cocok dgn julukannya, A School for Disabled Children Gaza. Shams Al Amal memang lah jadi sekolah satu-satunya di Gaza yg memfokuskan kegiatannya kepada anak-anak difabel. Pembangunan sekolah difabel itu sudah menghabiskan dana segede USD 98.000 & USD 19.000 utk Solar pannel & finishing bangunan sekolah tersebut, dana pembangunan sekolah tersebut berasal dari para donatur jamaah Peggy Melati Sukma di Majelis Menginspirasi. Seperti yg ungkapkan oleh penggagas komune Akhwat Bergerak Peggy Melati Sukma dalam konferensi pers di markas Perbuatan Serta-merta Tanggap (ACT), Jakarta, Pekan siang (20/9).
Sekolah Shams Al Amal telah kumplit bersama beraneka ragam perlengkapan supporter, seperti meja, kursi, pendingin tempat, notebook, & kursi roda bagi anak-anak hebat penyandang difabilitas. Bahkan Shams Al Amal punyai alat teristimewa lantaran di Gaza, sekolah ini jadi yg mula-mula memakai panel surya sbg pemasok energi listrik di dalam sekolah. Panel surya teramat digunakan mengingat alat listrik dari negeri di Gaza ialah alat yg sangat-sangat langka. “Listrik di Gaza cuma menyala lebih kurang 15 menit hingga masimal 4 jam saja,” kata Peggy. (CAL)
Previous
Next Post »
0 Komentar