Krisis Pengungsi Suriah: Ini Kritikan PBB terhadap Negara-Negara Kaya Timur Tengah

21.06
Krisis Pengungsi Suriah
Berawal dari gelombang besar-besaran pengungsi Suriah yg mendesak berangkat jauh dari negaranya akibat konflik perang, tetapi mereka bukan mengungsi ke wilayah negara-negara makmur di Timur Tengah, alih-alih mendatangi Qatar, Dubai, Saudi Arabia, & negara-negara tajir lain di Timur Tengah, mereka malah pilih buat nekat menyebrangi lautan Mediterania, menembus batas negeri Eropa melalui jalur-jalur tikus, & menjadikan tanah Eropa yang merupakan titik akhir pelarian mereka dari keadaan perang Suriah.
Aspek ini juga sontak mengejutkan dunia, warga Eropa kepada awalnya pula terkaget dikarenakan gelombang pengungsi asal Suriah yg datang ke Eropa nyata-nyatanya jauh lebih akbar di bandingkan perkiraan. Hasilnya tidak sedikit pihak juga menyalahkan kenapa negeri-negeri tajir di Teluk Timur Tengah tidak ingin buat menampung sedikitnya setengah dari komune pengungsi Suriah di Eropa.
PBB yang merupakan Instansi perserikatan bangsa-bangsa di dunia serta memberikan kecamannya kepada tidak sedikit negara-negara Timur Tengah yg terkesan apatis pada masalah krisis pengungsi di Suriah & Irak.
Seperti yg dilansir page CNN Indonesia, Komisaris tinggi PBB buat urusan pengungsi, UNHCR sudah menegaskan kritikannya pada isu pengungsi Suriah yg sedang mencuat sekian banyak bln terakhir. Seperti yg ketahuan, krisis pengungsi dalam skala masif sedang berlangsung di Suriah & Irak dipicu oleh deru perang saudara berkepanjangan. Tetapi negara-negara teluk yg makmur perekonomiannya kelihatan tidak peduli bersama krisis yg sedang melanda.
Antonio Guterres menyampaikan terhadap Reuters kepada Sabtu (26/9) bahwa saat ini krisis kemanusiaan Suriah itu merupakan bentuk kurang sigapnya nurani kemanusiaan negara-negara maju. Guterres mengandaikannya seperti seseorang pengungsi miskin yg mesti masuk lalu ke dalam gorong-gorong atau got rumah si orang tajir sampai si tajir menyadari derita si pengungsi miskin. Begitulah yg saat ini sedang berjalan dalam isu krisis pengungsi Suriah.
Keadaan geografis yg saling berdekatan antara negara-negara Teluk seperti Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dgn Suriah nyata-nyata tidak menciptakan negara tajir minyak itu menyadari krisis Suriah. Guterres berujar bahwa hingga arus imigran agung itu mesti bersaing maut menyebrangi laut Mediterania menuju Eropa barulah negara-negara tajir di Arab mendalami sejauh mana kadar krisis yg sedang berlangsung.
Selagi sekian banyak bln terakhir, arus pengungsi korban perang Suriah yg bergerak menuju ke Eropa benar-benar telah berada dalam keadaan yg amat tak terkontrol. Dikutip dari beragam fasilitas, PBB meringkas setidaknya ada kurang lebih 500.000 jiwa pengungsi dari Suriah & Irak yg pilih mengungsi ke Eropa. Bahkan mereka meninggalkan kamp pengungsi mereka di Turki, Yordania & Lebanon demi menggapai kehidupan yg lebih pantas di tanah Eropa.
Hingga kapan kita tetap menutup mata kepada krisis pengungsi Suriah ini?
(CAL) img : news.nationalpost.com
Previous
Next Post »
0 Komentar