Seismic Gap Potensi Gempa Bumi dan Tsunami

20.14
seismic-gap-padang
Fenomena pergerakan lempeng bumi merupakan persitiwa yang tak dapat dicegah, lempeng bumi bergerak secara alami dan secara rutin melepaskan energinya. Potensi pelepasan energi yang berakibat pada bencana alam gempa bumi ini jelas harus diwaspadai dan dipejari risikonya. Pemetaan teratur terhadap titik-titik seismic gap di sepanjang selatan Jawa harus didukung oleh semua pihak. Bencana alam bukan untuk disesali, namun hikmah dan pelajaran di balik kejadian bencana alam tetap harus dimaknai dan direfleksikan ke dalam diri.

Seperti yang sudah diketahui, bahwa rangkaian pulau-pulau di Indonesia terbentuk oleh proses subduksi jutaan tahun sebelum masehi antara Lempeng Australia, lempeng India, Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina. Proses subduksi itulah yang akhirnya melepaskan energi luar biasa besar berbentuk getaran yang menyebabkan bencana ala gempa bumi.

Jalur tubrukan lempeng India, Lempeng Australia, dan Lempeng Eurasia berjajar sepanjang barat pulau Sumatera dan Selatan Pulau Jawa. Selama satu dekade terakhir, aktivitas seismik begitu aktif terekam melepaskan energinya menjadi bencana alam gempa bumi di atas skala 6 skala richter di sepanjang jalur ini. Gempa Bumi Aceh 2004, Padang 2007, dan Bengkulu 2007, Yogyakarta 2006 menjadi bukti nyata aktifnya fenomena seismik antara lempeng Australia, lempeng India dan lempeng Eurasia di lintasan garis batas lempeng ini.

Namun tahukah kalian, bahwa ada wilayah yang disebut para ahli geologis sebagai Seismic Gap(celah seismik)? Celah seismik ini adalah wilayah di sepanjang jalur tubrukan lempeng yang sudah lama tidak menunjukkan aktivitas kegempaan. Namun fakta menunjukkan bahwa titik-titik seismik yang sudah tertidur lama ini akan sangat mematikan apabila tiba-tiba bergerak dan melepaskan energi super besarnya menjadi bencana alam gempa bumi.

Indentifikasi risiko bencana alam gempa bumi memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Alam dan Badan Meteorologi dan Geofisika. Penelitian dan riset mendalam di sepanjang garis tubrukan atau zona patahan aktif di selatan Jawa menjadi perhatian penting bagi sebagian besar peneliti Geologi di Indonesia.

Contoh seismic gapyang baru saja aktif kembali dan melepaskan energinya adalah gempa Jogja pada 2006 yang terjadi akibat gerakan baru patahan opak, dan gempa Pangandaran yang menyebabkan tsunami membunuh ratusan jiwa juga di tahun 2006.

Pergerakan lempeng Australia yang bersubduksi terhadap lempeng Eurasia bergerak sekitar 70 mm tiap tahunnya. Masih ada sesar Cimandiri di Jawa Barat, sesar Opak di Yogyakarta, dan Sesar Grindulu di Jawa Timur yang memiliki banyak titikseismic gapyang harus diwaspadai aktivitasnya.(ijal)

Referensi: Dongeng Geologi

Sumber
Previous
Next Post »
0 Komentar