Pemicu Konflik Yaman

19.09
Konflik Yaman
Koalisi internasional pimpinan Arab Saudi tetap dengan prinsipnya untuk membombardir Yaman melalui serangan udara dan pertempuran darat. Memicu bencana sosial konflik yang berkepanjangan. Tujuannya satu, mengganyang habis gerilyawan Houthi dan pasukan loyalis mantan Presiden Ali Abdullah Saleh.
Hingga penghujung bulan Mei ini, sudah lebih dua bulan gabungan koalisi internasional yang dipimpin oleh negara Arab Saudi membombardir Yaman untuk menindas habis kelompok gerilyawan Houthi. Akibatnya, seperti yang dikutip dari portal berita Antara, hampir dua pertiga dari total populasi penduduk Yaman atau sekitar 16 juta jiwa terjebak dalam kekalutan konflik, kini mereka harus bertahan hidup dengan ekonomi yang lumpuh dan tanpa ketersediaan air bersih.
Sepertinya konflik berkepanjangan di negara-negara timur tengah masih akan terus berlanjut. Setelah Irak, Afghanistan, Mesir, Suriah, dan kini Yaman. Tercatat sejak awal Maret lalu, konflik negara timur tengah kembali bergejolak, kali ini bencana sosial konflik meluluhlantakkan kehidupan dan perekonomian jutaan warga Yaman.
Kisah pemicu bencana sosial konflik Yaman sejatinya berawal sejak akhir tahun lalu. September di penghujung 2014, Gerilyawan Houthi berhasil menancapkan kuasanya terhadap ibukota Yaman, Sanaa. Ekstrimis mantan presiden Ali Abdullah Saleh ini mendesak hingga ke seluruh negara bagian di Yaman dan memaksa presiden yang berkuasa Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri ke Arab Saudi.
Hingga akhirnya negara Arab Saudi memutuskan untuk membentuk koalisi militer internasional gabungan beberapa negara timur tengah untuk menyerang balik gerilyawan Houthi dan mengembalikan kekuasaan presiden Hadi.
Akibatnya, krisis kemanusiaan sebagai bentuk bencana sosial pun masih berlanjut hingga detik ini. Situasi keamanan penduduk sipil di Yaman masih sangat terancam di tengah gempuran roket dan serangan darat. Bahkan di masa jeda gencatan senjata awal Mei ini, konflik kecil masih saja tetap terjadi. Masa gencatan senjata dimanfaatkan organisasi kemanusiaan internasional untuk menyalurkan kebutuhan utama bagi warga sipil di Yaman, berupa makanan, bahan bakar, dan barang-barang komersial lain.
Memang nyatanya, bencana sosial kemanusiaan di Yaman terkesan “tenggelam” dengan hingar bingar bencana alam gempa bumi di Nepal dan bencana sosial pengungsi Rohingya. Namun, perhatian internasional terhadap bencana sosial krisis Yaman tetap perlu menjadi prioritas, keselamatan jiwa warga sipil di Yaman tak bisa diabaikan.
Dikutip dari portal berita Antara, Badan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization merilis data dampak krisis Yaman, sekitar 300.000 orang telah menjadi pengungsi baru sejak Maret, dan 6.8 juta orang berada dalam krisis layanan kesehatan.
Selain itu, data valid menuliskan bahwa korban jiwa akibat krisis bencana sosial konflik Yaman sudah menembus angka 1.600 orang tewas, dan 6.200 orang luka-luka. (ijal)
Previous
Next Post »
0 Komentar