2006 Gempa Bumi dan Tsunami Pangandaran

19.26
 

Gempa di lepas laut selatan Jawa dan tsunami Pangandaran mungkin sudah mulai dilupakan di sebagian benak masyarakat Indonesia. Memang kenyataannya besaran dampak tsunami Pangandaran ratusan persen lebih sedikit dibanding kerugian yang dialami Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. 





Namun, jumlah korban jiwa yang menembus angka ratusan akibat hempasan tsunami Pangandaran tak bisa dianggap remeh. Sekai lagi, angka korban jiwa bukanlah jejeran statistik semata. Masyarakat Indonesia khususnya yang berada dalam risiko tertinggi bencana alam gempa bumi dan bencana alam tsunami harusnya semakin sadar. Dengan cerita pengingat, setidaknya dapat terefleksikan ke dalam diri masing-masing. Sudah sejauh mana diri kita menyadari dan memiliki pengetahuan dasar tentang mitigasi bencana alam? Mengurangi risiko sekecil mungkin adalah keharusan yang tak bisa dielak.
Fenomena bencana alam gempa bumi bisa dibilang punya risiko menyapa Indonesia hampir tiap tahunnya. Luas wilayah risiko terdampak gempa bumi di negeri ini bagai menjajar dari barat ke timur, utara ke selatan.

Lempeng aktif terus bergerak di bawah permukaan negeri. Prosesnya berlangsung natural: bencana mengguncang, darurat bencana berjalan, rehabilitasi dan rekonstruksi digelar. Terus bergulir menggunakan pola yang serupa. Tanggal kejadian, dan dampak korban jiwa maupun harta hanya nampak seperti rangkaian statistik semata. Masih ingatkah dengan kejadian Bencana Alam Gempa Bumi Selatan pulau Jawa dan tsunami Pangandaran di pertengahan 2006? Kala itu, sebagian besar masyarakat negeri ini masih merasakan bayangan duka bencana alam tsunami yang meluluhlantakkan Aceh di akhir 2004. Menjelang sore hari di pertengahan Juli 2006, ketika mendapat kabar dan merasakan langsung bencana alam gempa bumi di selatan Jawa beramplitudo 6.8 skala richter, seketika penduduk negeri ini bertanya-tanya, apakah tsunami akan muncul lagi?

Peringatan dini tsunami sempat berdering di sekian banyak tsunami warning system. Menjelang malam, media pun mulai melansir kabar duka yang mendalam bahwa gelombang tsunami yang ditakutkan betul tiba. Akibat gempa subduksi garis batas lempeng Australian dan lempeng Eurasian di lepas pantai Jawatersebut, gelombang tsunami terbentuk dan menghantam desa-desa di pesisir selatan Jawa, wilayah Cipatujah, Tasikmalaya dan pesisir Pangandaran, Ciamis.

Berdasar pencatatan U.S Geological Survey, tubrukan lempeng Australia dan lempeng Eurasia itu berepisentrum di kedalaman 48.6 km dari dasar laut, 240 kilometer tenggara Pangandaran. Akibat perubahan kontur dasar laut, terbentuk gelombang tsunami setinggi kurang lebih 2 hingga 5 meter. Gelombang ini menghempas dan merusak wilayah rekreasi pantai Pangandaran. Penduduk desa dan ratusan orang yang berlibur di pinggir pantai Pangandaran tak sempat berlari dan menyelamatkan diri. Bencana di sore hari itu membunuh setidaknya 659 jiwa, ratusan jiwa lainnya hilang tersapu ombak. (ijal)
Sumber
Previous
Next Post »
0 Komentar