Gempa Nepal dan Penyebab Gempanya

19.21


Jam berdetak menjelang tengah hari yang dingin namun terik di Nepal, tanggal menunjukkan angka 24 April 2015. Seketika dua tubrukan lempeng paling aktif di dunia, lempeng Eurasia dan lempeng India mengejutkan jutaan penduduk Nepal. Energi besar yang terlepas akibat tubrukan dahsyat tersebut menggoyang Kathmandu dan sebagian wilayah Nepal lain dengan kekuatan 7.9 skala richter, kedalaman pusat gempanya termasuk dalam kategori sangat dangkal, tak lebih dari 15 km dari permukaan laut. Bencana alam gempa bumi terburuk sejak 81 tahun lalu. Terakhir, Negeri atap dunia ini diguncang gempa dahsyat dengan lebih dari 16.000 korban jiwa pada 1934 silam.

Nepal, negeri berjuluk atap dunia tersebut berada tepat di atas lapisan lempeng bumi paling aktif di dunia. Tengok bagaimana pegunungan Himalaya dan puncak tertingginya: Puncak Everest menjulang menjadi titik tertinggi di muka bumi. Rangkaian pegunungan Himalaya di Nepal dan sebagian negara Asia Tengah adalah bukti nyata betapa aktifnya lapisan seismik lempeng Eurasia dan lempeng India. Berdasar catatan sejumlah peneliti, kedua lempeng tersebut bergerak teratur dan bertubrukan satu sama lain sekitar 4 hingga 5 cm tiap tahunnya. Lempeng india mendorong ke utara, dan menghasilkan rangkaian pegunungan Himalaya sejak puluhan juta tahun lalu.

Bencana alam gempa bumi yang melanda Nepal 24 April merupakan salah satu bentuk perputaran waktu yang konsisten selama 4 sampai 5 dekade. Para ahli kebencanaan menyebut bahwa pergerakan konsisten lempeng India yang menyesak ke utara mengakibatkan peluang Nepal diguncang gempa dengan skala sekitar 8 skala richter kurang lebih satu kali tiap 5 dekade.

Energi dahsyat yang terhempas keluar sebesar 7.8 skala richter pada April lalu berakibat mematikan bagi Nepal, khususnya di Ibukota Kathmandu. Ribuan infrastruktur yang dibangun tak berdasarkan pada kesiapsiagaan bencana langsung ambruk seketika. Menimbun nyawa, menghancurkan ekonomi Nepal. Sebagai negeri rawan bencana, nampaknya Nepal masih belum memiliki mitigasi bencana alam gempa bumi yang tertata apik. Bencana alam gempa bumi 24 April silam menewaskan lebih dari 6.500 korban jiwa.
Menurut Irwan Meliano, pakar gempa dari Pusat Gempa dan Mitigasi Bencana Institut Teknologi Bandung (ITB) seperti yang dikutip dari portal Kompas.com, bahwa karakter lokasi Nepal dan magnitudo gempa serta karakter lapisan tanah di Nepal menyumbang peran besar pada tingkat fatalistik dampak gempa. Irwan menjelaskan bahwa Nepal terutama Kathmandu berdiri di atas lapisan tanah lunak yang dahulunya berupa danau. Karakter itulah yang menyebabkan gempa Nepal bisa begitu mematikan.

Guncangan gempa bumi 24 April silam memiliki skala guncangan 9 MMI (Modified Mercallu Intensity). MMI memiliki skala minimum dan maksimum dari rentang 1 hingga 12. Dengan skala menyentuh angka 9, maka dapat dibayangkan seberapa kuat besaran goncangan gempa bumi Nepal yang menggoyang Nepal hampir satu bulan lalu. (IJL)
 Sumber
Previous
Next Post »
0 Komentar