Proses Terjadinya Tsunami

20.45
Proses Terjadi Tsunami
Ditilik secara harfiah, tsunami merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang berarti “harbour wave” atau gelombang dahsyat yang menyapu pelabuhan atau dermaga. Tsunami juga dikenali sebagai seismic sea wave atau tidal wave. Jika diartikan secara menyeluruh, tsunami memiliki arti sebagai sebuah fenomena tentang gelombang dahsyat yang disebabkan oleh perpindahan volume air dalam jumlah besar, umumnya terjadi di tengah Samudera luas ataupun di danau besar. Faktor gempa bumi, letusan gunungapi, ledakan bawah laut, runtuhnya dasar laut, mencairnya gletser, tabrakan meteor, ataupun gangguan besar lain yang terjadi di dasar laut merupakan penyebab utama bencana tsunami.

Berdasar pada peta kebencanaan Nusantara, bencana tsunami menempati posisi tertinggi dalam hal nilai fatalistik atau kematian yang ditimbulkan. Setidaknya satu dekade terakhir, tsunami besar dan mematikan terjadi dua kali di Indonesia (tsunami Aceh 2004, dan tsunami Pangandaran 2006). Bencana tsunami terdahsyat tentu adalah tsunami Aceh atau Asia Tenggara di tahun 2004, membunuh kehidupan lebih dari 220 ribu jiwa dalam sekejap mata.

Lantas sesungguhnya bagaimana proses tsunami terjadi? Mengapa tsunami dapat begitu mematikan?

Secara umum, tsunami jelas berbeda dengan gelombang ombak normal yang terjadi akibat pasang surut air laut. Tsunami memiliki kecepatan laju, ketinggian dan kekuatan ombak yang mematikan. Gelombang tsunami dapat menjalar hingga ribuan kilometer melintasi Samudera.

Bagaimana proses tsunami terbentuk? Berdasar pada catatan kebencanaan, penyebab paling umum terbentuknya gelombang tsunami adalah karena aktivitas seismik di bawah samudera. Lantai samudera yang tersusun atas potongan lempeng-lempeng dunia berubah bentuknya secara tiba-tiba. Ketika sisi patahan lempeng bertubrukan ataupun bersubduksi satu satu lain, maka volume air di atas zona patahan mendapatkan pelepasan energi dari proses tubrukan tersebut, merubah volume air pada kesimbangannya secara tiba-tiba.

Di area tengah samudera yang jauh dari pesisir, pelepasan energi pada volume air laut ini memiliki tinggi gelombang yang kecil namun kecepatan dan daya yang luar biasa besar. Dari tengah Samudera, energi gelombang yang terbentuk ini akan merambat dengan kecepatan ratusan kilometer per jam. Hingga akhirnya mendekat ke pesisir dan berubah menjadi gelombang tinggi berkecepatan rendah namun masih memiliki kekuatan rusak yang dahsyat.

Jika titik kejadian hentakan tsunami berada di laut dalam tengah Samudera, gelombang tsunami rata-rata hanya memiliki ketinggian 1 meter namun melaju sangat cepat hingga 800 km jam. Inilah yang menyebabkan gelombang tsunami sulit dideteksi di lokasi laut dalam.

Mendekat ke daratan, energi gelombang berkurang drastis kecepatannya menjadi hanya sekitar 80 km/jam, namun kekuatan rusak dan ketinggiannya meningkat drastis. Catatan dalam tsunami Aceh, tinggi gelombang ketika meluluhlantakkan pesisir mencapai tinggi 30 meter!

Berdasar logika, efek destruktif yang ditimbulkan oleh tsunami disebabkan oleh dua penyebab: efek benturan hebat antara gelombang dan pesisir karena kecepatan rambat gelombang tsunami yang sangat tinggi, ataupun karena faktor kekuatan rusak yang dahsyat akibat besaran volume air yang “tumpah” ke daratan.(ijal)

Sumber
Previous
Next Post »
0 Komentar